Kiai Sholeh Darat: Cinta Tanah Air, Tulisan Arab Pegon, Hingga Fatwa Jihad

22 Aug 2016

Kiai Sholeh Darat hidup pada akhir abad 19 M (1820 -1903 M) pada saat telah beberapa kali perlawanan pribumi kepada kolonialis Belanda berhasil dipadamkan sebut saja (Perang Diponegoro, Cut Nyak Dien, Cut Dik Tiro, Trunojoyo, Untung Suropati) apa yang bisa dilakukan para Kyai atau Ulama ketika hegemoni (tekanan) Belanda semakin kuat mencengkram tanah air nusantara.

Kiai Sholeh darat mewarisi darah juang ayahnya, Kiai Umar, yang juga merupakan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro saat menggelar Perang Jawa abad 18. Kiai Umar dipercaya memimpin perlawanan di kawasan pantai utara Jawa. Pada masa Kiai Sholeh, perjuangan lebih pada tataran pendidikan. Kiai Sholeh sadar bangsa Indonesia patut dicerdaskan lebih dahulu terutama persoalan moral dan akhlak keagamaan. Karena banyaknya perjuangan kandas lantaran sifat munafik dan korupsi sebagian bangsa sendiri.
Cinta Tanah Air

Karena sifat cinta tanah air ini pula yang menjadi alasan terbesar kenapa Kiai Sholeh Darat memilih kembali pulang ke Nusantara, meski sudah dipercaya (mendapat amanat dari guru-gurunya) mengajar di Haramain.

Kiai Sholeh banyak menulis kitab. Semuanya ditulis membumi dengan bahasa Jawa Pegon, bukan bahasa Arab, seperti kebanyakan ulama saat itu. Istilah beliau, bilisanil jawi al-mirikiyyah (bahasa Jawa yang dipakai sehari-hari kala itu). Karena beliau sadar tak banyak masyarakat Jawa yang bisa berbahasa Arab. Inilah wujud nasionalisme demi mencerdaskan anak bangsa. Aksara Pegon juga menjadi alat perjuangan, kata sandi rahasia antar ulama dalam melawan penjajah. Sebab Belanda kala itu melarang tulisan selain latin dan Arab. Belanda pun melarang penerjemahan Al-Quran ke bahasa daerah.

Menurut budayawan Jawa Timur, Agus Sunyoto, Belanda menyebut pribumi sebagai buta huruf karena tidak bisa membaca hurup latin milik Belanda. Padahal urusan baca tulis pribumi lebih dulu pandai, dan banyak tulisan bisa dikuasai. Kata ‘Buta huruf’ menjadi alat penjajahan.

Kiai Sholeh Darat, yang pertama menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. Penerjemahan itu sendiri atas saran Raden Ajeng Kartini.

Muhammad Shalih bin Umar adalah nama asli beliau. Dia lahir pada 1820 di Mayong Jepara, daerah yang sama tempat kelahiran Kartini. Beliau juga guru bagi KH.Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyyah dan banyak ulama besar Nusantara yang pernah menjadi muridnya langsung.

Menurut penuturuan cucu Kartini, Fadhila Sholeh, Kartini menghadiri pengajian sang Kiai yang saat itu membahas tafsir surat Al Fatihah. Bahasan tafsir itu membuat kartini terkesima. Sebelumnya Kartini hanya membaca surat Al Fatihah tanpa mengerti arti apalagi tafsirannya, katanya.

Kemudian Kartini meminta sang Kiai untuk menerjemahkan Al Quran ke bahasa Jawa agar bisa ia pahami. Kitab tafsir dan terjemahan Qur’an itu diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon. Arab Pegon dipilih untuk mengelabui Belanda yang melarang penerjemahan al Quran ke dalam bahasa Jawa. Dan kitab itu dihadiahkan sang Kiai kepada Kartini saat pernikahannya dengan RM Joyodiningrat, bupati Rembang.

Fatwa Jihad

Kiai Sholeh dengan berani membuat fatwa yang ditulis dalam Kitab Majmu’ Syari’ah hal 24 -25) dihukumi Kufur (ingkar) bahkan termasuk murtad orang Islam mengenakan pakaian atau juga menyerupai pakaian orang selain ahli Islam/ kafir (baju jas, topi,dasi. Demikian juga haram berdosa besar yang berperilaku meniru orang ahli Islam/kafir dalam berpaikaian dan makan. Termasuk haram dan dosa besar lagi bagi orang Islam menikahi/bercinta dengan selain ahli Islam/kafir.

Pada bagian lain Kiai Sholeh juga menganjurkan kalau memasuki kantor pemerintahan Belanda dengan kaki kiri disamakan kalu masuk WC. Fatwa ini kemudian diteruskan Syekh Hasyim Asy’ari yang juga melarang berpakain menyerupai orang Belanda dan kemudian membuat Fatwa/Resolusi Jihad yang kemudian meletus pertempuran arek-arek Surabaya, kemudian kita kenang sebagai Hari Pahlawan.
(Dari berbagai sumber)

Share

Penerbit Sahifa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *