Kiai Sholeh Darat, Guru Besar Ulama Nusantara

22 Aug 2016

Buah memang takkan jatuh jauh dari pohonnya. Pun begitu dengan yang dialami oleh Muhammad Sholeh Umar al-Samarani yang kelak lebih dikenal sebagai Kiyai Sholeh Darat. Ia lahir di Desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada 1820 M.

Ayah beliau, Kiyai Umar, adalah ulama kesohor di pantai utara Jawa. Lima tahun dalam hidupnya terlewati secara manis selama rentang 1825-1830 bersama Pangeran Diponegoro, sebagai orang kepercayaan. Darah pejuang inilah yang kelak membuat anaknya, Kiyai Sholeh Darat, “pulang” dari Makkah lantaran diculik Kiyai Hadi Girikusumo (pendiri ponpes Ki Ageng Girikusumo, Mranggen).
Di Makkah, Kiyai Sholeh Darat digembleng oleh para guru bijak bestari seperti, Syaikh Muhammad al-Maqri al-Mashri al-Makki, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasballah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki, Syaikh Ahmad al-Nahrawi al-Mishri al-Makki, Syaikh Umar al-Syami, Syaikh Yusuf al-Sanbalawi al-Mishri, Syaikh Jamal (mufti Madzhab Hanafi di Makkah), & Kiyai Zahid.

Setelah beroleh ijazah dari para guru mulia tersebut, Kiyai Sholeh Darat aktif mengajar di Masjidil Haram bersama rekan seperjuangannya yang juga kampiun para ulama. Dua di antaranya adalah imam besar Masjidil Haram, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Syaikh Nawawi al-Bantani. Selain dua ulama besar itu, ada Kiyai Mahfudz Tremas, Syaikh Ahmad al-Fatani, dan Kiyai Kholil Bangkalan.

Setelah diculik pulang Kiyai Hadi, Kiyai Sholeh Darat pun mendirikan Pesantren Darat di pesisir utara Semarang pada 1871 M/1289 H. Pesantren inilah yang kemudian turut berjasa mendidik & membesarkan nama Kiyai Hasyim Asy’ari, Kiyai Ahmad Dahlan, Kiyai Dahlan Tremas (ahli falaq), Kiyai Amir (Pekalongan), Kiyai Idris, Kiyai Sya’ban bin Hasan, Kiyai Abdul Hamid (Kendal), Kiyai Tahir, Kiyai Sahli, Kiyai Dimyati Tremas, Kiyai Khalil, Kiyai Yasin, & Kiyai Yasir Areng (ketiganya dari Rembang), Kiyai Munawir (Krapyak), Kiyai Dahlan (Watucongol), Kiyai Ridwan bin Mujahid, Kiyai Abd l-Shamad, Kiyai Ali Barkan, Kiyai Tafsir Anom, dan Raden Ajeng Kartini.

RA Kartini mulai jatuh hati pada Kiyai Sholeh Darat saat kali pertama mengikuti sinau tafsir al-Fatihah yang beliau ampu dalam bahasa Jawa dan ditulis dengan aksara Arab pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Hijaiyah).

Seiring waktu, juga berdasar saran Kartini atas pengalamannya memelajari Islam yang kurang menyenangkan, Kiyai Sholeh Darat akhirnya melanjutkan tafsir al-Fatihah itu menjadi kitab tafsir & terjemahan al-Quran yang berjudul, Faid ar-Rahman. Inilah kitab tafsir perdana di Nusantara, yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab.

Semangat hubb l-wathon (cinta negeri) yang diwarisi Kiyai Sholeh Darat dari ayahandanya selaku pejuang Perang Jawa, pun terwaris pada para santrinya yang kelak terlibat dalam proses perlawanan mengusir Belanda dan semua anteknya dari negeri ini.
Semoga Gusti Allah meridhai masa hidup beliau semasa di dunia dan merahmatinya selalu hingga kini. Ila hadrati Kiyai Sholeh Darat lahul Fatihah… []

Omah Prabata, 8 Februari 2016
(Ren Muhammad, Depok)

Share

Penerbit Sahifa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *